BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ketika kita mempelajari bahasa Indonesia di SMP
dan SMA, kita pasti pernah mempelajari frasemenurut Oscar (Keraf dalam Oscar,
1993:5), yaitu bagian-bagian dari kata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan
proses-proses pembentukan kaliamt dalam suatu bahasa. Frase dalam bahasa
Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu frase endosentris dan frase eksosentris.
Frasa endosentris merupakan frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan
unsurnya, baik semua unsur-unsurnya maupun salah satu unsurnya (Ramlan,
1986:146), sedangkan frasa eksosentris ialah frasa yang tidak mempunyai
distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan, 1986:146). Makalah ini akan
membahas frase endosentris dan jenis-jenisnya, pengertian dari jenis-jenis
frasa tersebut, dan perluasan aposisi selain subjek akan dibahas secara jelas.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan beberapa masalah yang
perlu dibahas, yaitu :
1. Apakah pengertian dari
frase?
2. Apakah pengertian dari
frase?
3. Bagaimana penggolongan
frase?
C. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah untuk memperdalam mata kuliah Bahasa
Indonesia yang telah di pelajari dan dibimbing oleh dosen pembimbing mata
kuliah Bahasa Indonesia dan p.karya
ilmiah, yaitu ibu yuyun safitri,s.pd,M.pd terutama bagian frase yang akan dibahas dalam
makalah ini.
D.MANFAAT
1.dengan di susun nya makalah tentang frase ini diharapkan jadi tambahan wawasan terhadap para
mahasiswa.
2.menjadi acuan dalam mempelajari karakteristik kedudukan kalimat
dalam bahasa indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
1.PENGERTIAN FRASE
Frase lazim dikatakan sebagai satuan gramatikal yang berupa
gabungan kata yang bersifat nonprediktif (hubungan antara kedua unsur yang
membentuk, frase tidak berstruktur subjek – predikat atau predikat – objek),
atau lazim juga di sebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis
di dalam suatu kalimat. Frase adalah
satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih,
yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook 1971:91;Elson and Pickett 1969:73).
Menurut Ramlan frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau
lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa ( Ramlan 1985:138). Yang
dimaksud dengan tidak melampaui unsur klausa adalah unsur S, P, O, PEL, KET.
Contoh, Eka sedang membaca majalah di ruang tamu yang terdiri dari beberapa
fungsi yaitu, Eka menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P,
majalah menduduki fungsi O dan di ruang tamu menduduki fungsi KET.
2.1 Penggolongan Frase
Frase dapat di golongkan menjadi :
1. Berdasarkan tipe
strukturnya, maka frase dapat dibedakan atas :
Ø Frase Eksosentris dan
Endosentris
2. Berdasarkan persamaan
distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi
:
Ø Frase Nominal, Verbal,
Bilangan, Keterangan dan Frase Depan.
2.1.1 Frase
Eksosentris dan Endosentris
Frase dua orang mahasiswa dalam klausa dua orang mahasiswa sedang
membaca buku baru di perpustakaan mempunyai distribusi yang sama dengan unsur
dua orang, maupun dengan unsur mahasiswa. Persamaan distribusi itu dapat
dilihat dari jajaran di bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Dua orang – sedang membaca buku baru di perpustakaan.
- Mahasiswa sedang
membaca buku baru di perpustakaan.
Demikian juga frase sedang membaca yang mempunyai distribusi yang
sama dengan unsurnya, yaitu dengan unsur membaca. Dan frase buku baru yang
mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya, yaitu unsur buku. Frase yang
mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun
salah satu dari unsurnya disebut frase endosentrik, dan frase yang tidak demikian,
maksudnya tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, disebut
frase eksosentris. Contoh frase yang eksosentris adalah frase di perpustakaan
dalam klausa di atas, frase tersebut tidak mempunyai distribusi yang sama
dengan semua unsurnya. Ketidaksamaan tersebut dapat dilihat dari jajaran di
bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca bukuu baru di perpustakaan
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di -
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru – sperpustakaan.
a. Frase Eksosentris
Frase eksosentris adalah frase
yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang
sama dengan semua komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi
(Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:19), frase eksosentris adalah frase yang tidak
berhulu, tidak berpusat atau non-headed (White-hall 1956:9 dalam Tarigan
1984:94) ataupun noncentered (Cook
1971:90). Sedangkan menurut ramlan frase eksosentris adalah frase yang
tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan 1985:142).
Berdasarkan struktur internalnya, frase eksosentris ini disebut
juga relater-axis atau frase relasional. Dan berdasarkan posisi penghubung yang
mungkin terdapat di dalamnya, maka frase eksosentris atau frase relasional
dapat dibagi attas :
a) Frase preposisi
b) Frase posposisi
c) Frase preposposisi
Perlu diketahui bahwa dalam bahasa Indonesia hanya mengenal frase
preposisi. Namun untuk menambah pengetahuan kita maka tidak ada salahnya kalau
frase posposisi dan frase preposposisi kita bahas juga.
v Eksosentris Direktif
(Frase Preposisi)
Frase preposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di
bagian depan (Tarigan 1984:94). Contoh frase preposisi adalah dengan baik,
sejak kemarin, di samping. Pada umumnya frase proposisional berfungsi sebagai
keterangan.
Pada dasarnya, frase preposisi menunjukkkan makna berikut :
Ø ’tempat’, seperti di
pasar dan pada dinding
Ø ’asal arah’, seperti
dari kampung, dari sekolah
Ø ’asal bahan’, seperti
(cincin) dari emas, (kue) dari tepung beras
Ø ’tujuan arah’, seperti
ke pasar, ke kampus
Ø ’menunjukkan
peralihan’, seperti kepada saya,(percaya) terhadap Tuhan
Ø ’perihal’, seperti
tentang ekonomi, (terkenang) akan kebaikannya
Ø ’tujuan’, seperti
untukmu, buatku
Ø ’sebab’, seperti karena, lantaran, sebab,
gara-gara (kamu)
Ø ’penjadian’, seperti
oleh karena, untuk itu
Ø ’kesertaan’, seperti
denganmu, dengan ayah
Ø ’cara’, seperti dengan
baik, dengan senang
Ø ’alat’, seperti
cangkul, dengan traktor
Ø ’keberlangsungan’,
seperti sejak kemarin, dari tadi, sampai besok, sampai nanti
Ø ’penyamaan’, seperti
selaras dengan, sesuai dengan
Ø ’perbandingan’,
seperti seperti dia, sebagai bandingan
v Frase Posposisi
Frase posposisi atau post-position adalah frase yang penghubungnya
menduduki posisi di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa
Indonesia. Salah satu bahasa yang mempunyaai frase ini adalah bahasa Jepang.
Contoh :
ga
”penanda subyek”
heitai ga, kureta. ”The soldier gave it to me”.
O
”penanda obyek”
Heitai O, mita. ”I saw a soldier”
de ”by
means of; in; on; at”
Kisya de, kita. ”I come by train”.
v Frase Preposposisi
Frase preposposisi adalah
frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan dan di bagian belakang. Frase ini tidak
terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang menggunakan frase
ini adalah bahasa Karo. Contoh :
i juma nari ”dari ladang”
i tiga nari ”dari pasar”
i Bandung nari
”dari bandung”
i jenda nari ”dari sini”
i jah nari ”dari sana”
b. Frase Endosentris
Frase endosentris adalah frase yang seluruhnya memiliki perilaku
sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya (Zaenal Arifin dan
Junaiyah 2008:20-21). Artinya adalah salah satu komponennya dapat menggantikan
kedudukan keseluruhannya. Frase endosentris adalah frase yang berhulu, yang
berpusat, atau headed phrase (White hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:97), yaitu
frase yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya. Sedangkan menurut ramlan,
frase endosentris adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan
unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya (Ramlan
1985:142).
Frase endosentris dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Endosentri
koordinatif
2. Endosentris atributif
3. Endosentris apositif
1. Endosentris
Koordinatif
Frase ini terdiri dari unsur-unsur yang setara. Kesetaraannya itu
dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata
penghubung dan atau atau. Misalnya:
- Rumah pekarangan
- Suami istri
- Dua tiga
- Ayah ibu
- Pembinaan dan
pengembangan
- Pembangunan dan
pembaharuan
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase koordinatif adalah frase
endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat
dihubungkan dengan partikel dan, ke, atau, tetapi, ataupun konjungsi korelatif,
seperti baik …maupun dan makin … makin (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25).
Kategori frase koordinatif sesuai dengan kategori komponennya. Contoh :
a. Kaya atau miskin,
kaya ataupun miskin, kaya dan miskin; dari, untuk, dan oleh rakyat, untuk dan
atas nama klien; pintar, tetapi congkak
b. Baik merah maupun
biru, entah suka entah tidak (suka), makin pagi makin baik, makin tua makin
bermutu.
Perhatikan bahwa kata yang dapat digabungkan hanya kata yang
berkategori
sama, seperti merah-biru, tua-bermutu, suka-(tidak) suka, dan
pagi-baik.
Jika tidak menggunakan partikel, gabungan itu disebut frase
parataktis, seperti tua muda, besar
kecil, hilir mudik, keluar masuk, pulang pergi, naik turun, makan minum, ibu
bapak, dan kaya miskin.
2. Endosentris Atributif
Berbeda dengan endosentrik koordinatif, frase golongan ini terdiri
dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu unsur-unsurnya tidak mungkin
dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya :
- Pembangunan lima
tahun
- Sekolah Inpres
- Buku baru
- Pekarangan luas
- Orang itu
- Malam ini
Kata-kata yang dicetak miring dalam frase-frase diatas, yaitu kata
pembangunan, sekolah, buku, pekarangan, orang, malam, merupakan unsur pusat
(UP), yaitu unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan
secara semantik merupakan unsur yang terpenting, sedangkan unsur lainnya
merupakan atribut (Atr).
3. Endosentris Apositif
Dalam klausa surti anak pak Tejo sedang belajar, satuan Surti, anak
pak Tejo juga merupakan frase. Frase ini memiliki sifat yang berbeda dengan
frase endosentrik yang koordinatif dan yang atributif. Dalam frasse endosentrik
yang koordinatif unsur-unsurnya dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan
atau atau, dan dalam endosentrik yang atributif unsur-unsurnya tidak dapat
dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau dan secara semantik ada unsur
yang terpenting, yang lebih penting dari unsur lainnya. Dalam frase Surti anak
pak Tejo unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung
dan atau atau dan secara semantik unsur yang satu dalam hal ini
unsur anak pak Tejo, sama dengan unsur lainnya, yaitu sama dengan unsur Surti.
Karena sama unsur anak pak Tejo dapat menggantikan unsur Surti :
Surti, anak pak Tejo, sedang belajar
Surti, - ,sedang belajar
- , anak pak
Tejo sedang belajar
Unsur Surti merupakan UP, sedangkan unsur anak pak Tejo merupakan
aposisi (Ap).
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase apositif adalah frase
endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada
wujud yang sama (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Contohnya :
Ria, anak kakakku yang tinggal di palembang,
Megawati Soekarnoputri, salah seorang mantan Presiden Republik
Indonesia,
Para buruh menolak – membangkang – masuk kerja.
Dia tidak miskin – walaupun tidak kaya –
2.1.2 Frase Nominal,
Veerbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan
Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori
kata, frase dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu :
- Frase Nominal
- Frase Verbal
- Frase Bilangan
- Frase keterangan
Di samping itu, ada frase yang tidak memiliki persamaan distribusi
dengan golongan kata, yaitu yang disebut frase depan, sehingga seluruhnya
terdapat lima frase yang akan dibahas satu persatu.
1. Frase Nominal
Frase nominal adalah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan
kata nominal (Ramlan 1985:145). Persamaan distributif itu dapat diketahui
dengan jelas dari jajaran :
Contoh : – ia membeli baju baru
ia membeli baju baru
Frase baju baru dalam klausa diatas mempunyai distribusi yang sama
dengan kata baju. Kata baju termasuk golongan kata nominal, karena itu frase
baju baru termasuk golongan frase nominal. Contoh-contoh lain :
- Mahasiswa lama
- Gedung sekolah
- Kapal terbang itu
- Jalan raya ini
1.1. Kategori Kata
atau Frase yang Menjadi Unsurnya
Secara kategori frase nominal mungkin terdiri dari :
1) N diikuti N, artinya
terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase
nominal sebagai UP atau Atr. Jadi semua unsurnya berupa kata atau frase
nominal. Misalnya :
Ø Rumah pekarangan
Ø Ayah ibu
Ø Suami istri
Ø Kakak saya
Frase rumah pekarangan, ayah ibu, suami istri, dan kakak saya terdiri dari kata nominal semua, yaitu kata
rumah, ayah, suami, dan kakak sebagai UP, diikuti kata pekarangan, ibu, istri
dan saya sebagai UP pula.
2) N diikuti V, artinya
terdiri dari kata atau frase nominal
sebagai UP, diikuti kata frase verbal sebagai Atr. Misalnya :
Ø Orang bertopi
Ø Ayah bekerja
Ø Adik bermain
3) N diikuti Bil,
artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh
kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :
Ø Orang dua
Ø Telur tiga butir
Ø Sawah lima petak
Ø Harimau lima ekor
4) N diikuti Ket,
artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata
atau frase keterangan sebagai Atr. Misalnya :
Ø Koran kemarin pagi
Ø Buku tahun kemarin
Ø Nasi tadi pagi
Ø Orang tadi
5) N diikuti FD, artinya
terdiri dari kata atau frase nominal
sebagai UP, diikuti kata atau frase depan sebagai Atr. Misalnya :
Ø Beras dari tetangga
Ø Kereta api ke Surabaya
Ø Pisang dari Ambon
6) N didahului Bil,
artinya terdiri dari kata atau frase nominal UP, didahului oleh kata atau frase
bilangan sebagai Atr. Misalnya :
Ø Sepuluh ekor ayam
Ø Lima batang kayu
Ø Dua buah sepeda baru
7) N didahului Sd,
artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP didahului oleh kata
atau frase sandang sebagai Atr. Misalnya ;
Ø si Ahmad
Ø sang Pujangga
1.2. Hubungan Makna
antar Unsur-unsurnya
Pertemuan unsur-unsur dalam suatu frase menimbulkan hubungan makna.
Misalnya peertemuan kata rumah dengan
kata pekarangan dalam frase pekarangan rumah menimbulkan hubungan makna ’penjumlahan’. Di samping itu, mungkin
juga menimbulkan hubungan makna ’pemilihan’. Hubungan makna itu secara jelas
ditandai oleh kemungkinan diletakkannnya kata dan atau atau di antara kedua
unsurnya, yang menjadi pekarangan dan rumah atau pekarangan atau rumah.
Kemungkinan hubungan-hubungan makna dalam frase nominal tersebut
adalah sebagai berikut :
v Penjumlahan
Makna ini ditandai oleh kemungkinan diletakkannya penghubung dan
diantara kedua unsurnya. Misalnya :
Ø Suami (dan) istri
Ø Pekarangan (dan) rumah
Ø Nusa (dan) bangsa
v Pemilihan
Kemungkinan diletakkannya kata atau diantara unsurnya. Misal :
Ø Ayah atau ibu
Ø Dua atau tiga tahun
lagi
Ø Empat atau lima kilo
beras
v Kesamaan
Kesamaan ini ditandai dengan kemungkinan diletakkannya kata adalah
diantara unsurnya, misal Lubuklinggau kota madani yang secara semantik unsur
Lubuklinggau sama dengan kota madani. Contoh lain :
Ø Bapak SBY presiden RI
Bapak SBY adalah presiden RI
Ø Kakak saya Ahmad
Kakak saya adalah ahmad
Ø Rahmad mahasiswa STKIP
Rahmad adalah mahasiswa STKIP
v Penerangan
Maksudnya adalah fungsi Atr
sebagai penerang UP, contoh buku baru, kata buku berfungsi sebagai UP
dan kata baru sebagai penerang dari kata buku. Hubungan makna ini ada
kemungkinan diletakkannya kata yang diantara unsurnya sehingga kata buku baru
menjadi buku yang baru. Contoh lain :
Ø Pohon rindang
Ø Binatang buas
Ø Acara terakhir
v Pembatas
Dalam hal ini unsur Atr berfungsi sebagai pembatas UP, contoh
rumah fauzi yang menyatakan makna rumah
(milik) fauzi. Hubungan makna ini ditandai tidak mungkinnya diletakkan kata
yang, dan, atau, dan adalah diantara unsur frase N yang terdiri dari N diikuti
N. Contoh lain :
Ø Anggota DPR
Ø Buku
sejarah
Ø Pembangunan
daerah
v Penentu atau Penunjuk
Hubungan makna ini berkemungkinan diletakkannya kata penunjuk ini
atau itu yang berfungsi sebagai penunjuk UP, kata penunjuk bukan menyatakan makna
’penerang’ sekalipun dapat di tambahkan kata yang diantara unsurnya, dan bukan
pula menyatakan makna ’pembatas’ tetapi menyatakan makna penentu atau penunjuk.
Contoh :
Ø Rumah itu
Ø Mahasiswa
yang rajin itu
Ø Pekarangan ini
Ø Mobil ini
2. Frase Verbal
Frase verbal atau frase golongan V adalah frase yang mempunyai
distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu dapat
diketahui dengan jelas dari jajaran :
Contoh : Rachmad sedang makan roti di ruang tamu
Rachmad – makan roti di ruang tamu
Frase sedang makan dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang
sama dengan kata makan. Kata makan termasuk golongan V. Karena itu frasse
sedang makan juga termasuk golongan V. Contoh lain :
- Akan pergi
- Dapat menyanyi
- Sudah pulang
- Sedang makan
Kata pergi, menyanyi, pulang, dan makan termasuk golongan kata
verbal, sedangkan kata akan, dapat, sudah dan sedang termasuk golongan kata
tambah (T). Kata-kata tambah tersebut seperti akan, sudah, sering, dapat,
sedang, baru dan tidak.
Zaenal Arifin dan junaiyah (2008), frase verbal adalah frase yang
terdiri dari atas gabungan verba dan
adverba atau gabungan verba adverbia atau gabungan verba dan preposisi gabungan
(Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:22).
Contohnya :
1. Pergi kerja, bangkit
berlari, tegak berdiri
2. Pulang pergi, makan
minum
3. Berlari cepat,
berjalan mundur, bernyanyi merdu, cepat berlari.
3. Frase Bilangan
Frase bilangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama
dengan kata bilangan (Ramlan 1985:162). Misalnya frase dua ekor dalam dua ekor
ayam, frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan dua, persamaan tersebut
dapat dilihat dari jajarannya :
Dua ekor ayam
Dua – ayam
Kata dua termasuk golongan kata bilangan, karena itu frase dua ekor
ayam termasuk ke dalam golongan frase bilangan. Contoh lain :
Ø Lima botol (minyak
goreng)
Ø Tujuh drigen (bensin)
Ø Sepuluh mangkok
(bakso)
Kata lima, tujuh, sepuluh diatas termasuk golongan kata bilangan,
sedangkan botol, drigen dan mangkok termasuk golongan kata penyukat. Jadi frase
bilangan tersebut terdiri dari unsur kata bilangan diikuti kata penyukat.
Zaenal Arifin dan Junaiyah menyebut frase ini dengan frase numeral
yaitu, frase yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain
yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolongan bilangan dan
nomina ukuran (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:24). Contohnya :
Ø tujuh belas, tiga
puluh, lima puluh
Ø dua lusin, empat gros,
lima botol
4. Frase Keterangan
Frase keterangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama
dengan kata keterangan. Misalnya frase tadi pagi yang mempunyai distribusi yang
sama dengan kata tadi. Peersamaan tersebut dapat diketahui dari jajarannya :
Tadi pagi dewi pergi kuliah
Tadi – dewi pergi kuliah.
Kata-kata keterangan seperti tadi, kemarin, nanti, besok, lusa,
sekarang contoh lain misalnya :
Ø Kemarin pagi paman
datang.
Ø Nanti malam ayah mulai
ronda.
Ø Besok saya pergi ke
bandung.
5. Frase Depan
Frase depan ialah frase yang terdiri dari kata depan sebagai
penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinya. Misalnya :
Ø di sebuah kota
Ø di toko ayah
Ø sejak kemarin sore
Frase di sebuah kota terdiri dari kata depan di sebagai penanda,
diikuti oleh frase sebuah kota sebagai aksinya, dan begitu juga dengan frase
sejak kemarin sore yang terdiri dari sejak sebagai kata depan dan frase kemarin
sore sebagai aksinya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Frase adalah satuan gramatikal yang secara potensial berupa
gabungan kata yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas
dan mempunyai sifat nonpredikatif.
Frase
dapat dibedakan menjadi :
1. Frase Eksosntris dan Endosentris
Ø Frase Eksosentris :
Ø Eksosentris Direktif (frase preposisi)
Ø Frase posposisi
Ø Frase preposposisi
Ø Frase Endosentris ;
Ø Endosentris Koordinatif
Ø Endosentris Atributif
Ø Endosentris Apositif
2. Frase Berdasarkan Persamaan Distribusi
Ø Frase Nominal
Ø Frase Verbal
Ø Frase Bilangan
Ø Frase Keterangan
Ø Frase Depan
B. SARAN
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap tentang
pembahasan Sintaksis, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku Sintaksis
dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya membahas
garis besarnya saja tentang pembahassan Sintaksis dan hanya membahas lebih
dalam tentang frase.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan penulisan makalah-makalah
selanjutnya sangat diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin,
Zaenal dan Junaiyah. 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo
Ramlan,
M. 1985. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono
Tarigan,
Henry Guntur. 1984. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa
http://www.rider-system.net/2009/09/konsep-frasa.html