Selasa, 02 April 2013





BAB I
PENDAHULUAN

A.       LATAR BELAKANG
Ketika kita mempelajari bahasa Indonesia di SMP dan SMA, kita pasti pernah mempelajari frasemenurut Oscar (Keraf dalam Oscar, 1993:5), yaitu bagian-bagian dari kata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kaliamt dalam suatu bahasa. Frase dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu frase endosentris dan frase eksosentris. Frasa endosentris merupakan frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsur-unsurnya maupun salah satu unsurnya (Ramlan, 1986:146), sedangkan frasa eksosentris ialah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan, 1986:146). Makalah ini akan membahas frase endosentris dan jenis-jenisnya, pengertian dari jenis-jenis frasa tersebut, dan perluasan aposisi selain subjek akan dibahas secara jelas.

B.       RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan beberapa masalah yang perlu dibahas, yaitu :
1.    Apakah pengertian dari frase?
2.    Apakah pengertian dari frase?
3.    Bagaimana penggolongan frase?

C.       TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah untuk memperdalam mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah di pelajari dan dibimbing oleh dosen pembimbing mata kuliah  Bahasa Indonesia dan p.karya ilmiah, yaitu ibu yuyun safitri,s.pd,M.pd  terutama bagian frase yang akan dibahas dalam makalah  ini.
 D.MANFAAT
1.dengan di susun nya makalah tentang frase ini diharapkan  jadi tambahan wawasan terhadap para mahasiswa.
2.menjadi acuan dalam mempelajari karakteristik kedudukan kalimat dalam bahasa indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

1.PENGERTIAN FRASE

Frase lazim dikatakan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk, frase tidak berstruktur subjek – predikat atau predikat – objek), atau lazim juga di sebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di  dalam suatu kalimat. Frase adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook 1971:91;Elson and Pickett 1969:73). Menurut Ramlan frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa ( Ramlan 1985:138). Yang dimaksud dengan tidak melampaui unsur klausa adalah unsur S, P, O, PEL, KET. Contoh, Eka sedang membaca majalah di ruang tamu yang terdiri dari beberapa fungsi yaitu, Eka menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, majalah menduduki fungsi O dan di ruang tamu menduduki fungsi KET.
2.1  Penggolongan Frase
Frase dapat di golongkan menjadi :
1.      Berdasarkan tipe strukturnya, maka frase dapat dibedakan atas :
Ø      Frase Eksosentris dan Endosentris
2.      Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi :
Ø      Frase Nominal, Verbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan.
2.1.1        Frase Eksosentris dan Endosentris
Frase dua orang mahasiswa dalam klausa dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan mempunyai distribusi yang sama dengan unsur dua orang, maupun dengan unsur mahasiswa. Persamaan distribusi itu dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Dua orang – sedang membaca buku baru di perpustakaan.
-         Mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
Demikian juga frase sedang membaca yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu dengan unsur membaca. Dan frase buku baru yang mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya, yaitu unsur buku. Frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya disebut frase endosentrik, dan frase yang tidak demikian, maksudnya tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, disebut frase eksosentris. Contoh frase yang eksosentris adalah frase di perpustakaan dalam klausa di atas, frase tersebut tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Ketidaksamaan tersebut dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:
Dua orang mahasiswa sedang membaca bukuu baru di perpustakaan
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di -
*dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru – sperpustakaan.

a. Frase Eksosentris
Frase eksosentris adalah frase  yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya, baik dengan sumbu maupun dengan preposisi (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:19), frase eksosentris adalah frase yang tidak berhulu, tidak berpusat atau non-headed (White-hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:94) ataupun noncentered (Cook  1971:90). Sedangkan menurut ramlan frase eksosentris adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan 1985:142).
Berdasarkan struktur internalnya, frase eksosentris ini disebut juga relater-axis atau frase relasional. Dan berdasarkan posisi penghubung yang mungkin terdapat di dalamnya, maka frase eksosentris atau frase relasional dapat dibagi attas :
a)   Frase preposisi
b)   Frase posposisi
c)   Frase preposposisi
Perlu diketahui bahwa dalam bahasa Indonesia hanya mengenal frase preposisi. Namun untuk menambah pengetahuan kita maka tidak ada salahnya kalau frase posposisi dan frase preposposisi kita bahas juga.
v     Eksosentris Direktif (Frase Preposisi)
Frase preposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan (Tarigan 1984:94). Contoh frase preposisi adalah dengan baik, sejak kemarin, di samping. Pada umumnya frase proposisional berfungsi sebagai keterangan.
Pada dasarnya, frase preposisi menunjukkkan makna berikut :
Ø      ’tempat’, seperti di pasar dan pada dinding
Ø      ’asal arah’, seperti dari kampung, dari sekolah
Ø      ’asal bahan’, seperti (cincin) dari emas, (kue) dari tepung beras
Ø      ’tujuan arah’, seperti ke pasar, ke kampus
Ø      ’menunjukkan peralihan’, seperti kepada saya,(percaya) terhadap Tuhan
Ø      ’perihal’, seperti tentang ekonomi, (terkenang) akan kebaikannya
Ø      ’tujuan’, seperti untukmu, buatku
Ø      ’sebab’, seperti karena, lantaran, sebab, gara-gara (kamu)
Ø      ’penjadian’, seperti oleh karena, untuk itu
Ø      ’kesertaan’, seperti denganmu, dengan ayah
Ø      ’cara’, seperti dengan baik, dengan senang
Ø      ’alat’, seperti cangkul, dengan traktor
Ø      ’keberlangsungan’, seperti sejak kemarin, dari tadi, sampai besok, sampai nanti
Ø      ’penyamaan’, seperti selaras dengan, sesuai dengan
Ø      ’perbandingan’, seperti seperti dia, sebagai bandingan
v            Frase Posposisi
Frase posposisi atau post-position adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang mempunyaai frase ini adalah bahasa Jepang. Contoh :
ga                     ”penanda subyek”
heitai ga, kureta. ”The soldier gave it to me”.
O                     ”penanda obyek”
                                  Heitai O, mita. ”I saw a soldier”
de                    ”by means of; in; on; at”
Kisya de, kita. ”I come by train”.
v        Frase Preposposisi
Frase preposposisi  adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan  dan di bagian belakang. Frase ini tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu bahasa yang menggunakan frase ini adalah bahasa Karo. Contoh :
i juma nari                           ”dari ladang”
i tiga nari                             ”dari pasar”
i Bandung nari                     ”dari bandung”
i jenda nari                          ”dari sini”
i jah nari                              ”dari sana”




b. Frase Endosentris
Frase endosentris adalah frase yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:20-21). Artinya adalah salah satu komponennya dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya. Frase endosentris adalah frase yang berhulu, yang berpusat, atau headed phrase (White hall 1956:9 dalam Tarigan 1984:97), yaitu frase yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya. Sedangkan menurut ramlan, frase endosentris adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya (Ramlan 1985:142).
Frase endosentris dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu :
1.      Endosentri koordinatif
2.      Endosentris atributif
3.      Endosentris apositif
1.      Endosentris Koordinatif
Frase ini terdiri dari unsur-unsur yang setara. Kesetaraannya itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya:
-         Rumah pekarangan
-         Suami istri
-         Dua tiga
-         Ayah ibu
-         Pembinaan dan pengembangan
-         Pembangunan dan pembaharuan
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase koordinatif adalah frase endosentris berinduk banyak, yang secara potensial komponennya dapat dihubungkan dengan partikel dan, ke, atau, tetapi, ataupun konjungsi korelatif, seperti baik …maupun dan makin … makin (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Kategori frase koordinatif sesuai dengan kategori komponennya. Contoh :
a.       Kaya atau miskin, kaya ataupun miskin, kaya dan miskin; dari, untuk, dan oleh rakyat, untuk dan atas nama klien; pintar, tetapi congkak
b.      Baik merah maupun biru, entah suka entah tidak (suka), makin pagi makin baik, makin tua makin bermutu.
Perhatikan bahwa kata yang dapat digabungkan hanya kata yang berkategori
sama, seperti merah-biru, tua-bermutu, suka-(tidak) suka, dan pagi-baik.
Jika tidak menggunakan partikel, gabungan itu disebut frase parataktis, seperti  tua muda, besar kecil, hilir mudik, keluar masuk, pulang pergi, naik turun, makan minum, ibu bapak, dan kaya miskin.
2.      Endosentris Atributif
Berbeda dengan endosentrik koordinatif, frase golongan ini terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau. Misalnya :
-         Pembangunan lima tahun
-         Sekolah Inpres
-         Buku baru
-         Pekarangan luas
-         Orang itu
-         Malam ini
Kata-kata yang dicetak miring dalam frase-frase diatas, yaitu kata pembangunan, sekolah, buku, pekarangan, orang, malam, merupakan unsur pusat (UP), yaitu unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atribut (Atr).
3.      Endosentris Apositif
Dalam klausa surti anak pak Tejo sedang belajar, satuan Surti, anak pak Tejo juga merupakan frase. Frase ini memiliki sifat yang berbeda dengan frase endosentrik yang koordinatif dan yang atributif. Dalam frasse endosentrik yang koordinatif unsur-unsurnya dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, dan dalam endosentrik yang atributif unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau dan secara semantik ada unsur yang terpenting, yang lebih penting dari unsur lainnya. Dalam frase Surti anak pak Tejo unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung
dan atau atau dan secara semantik unsur yang satu dalam hal ini unsur anak pak Tejo, sama dengan unsur lainnya, yaitu sama dengan unsur Surti. Karena sama unsur anak pak Tejo dapat menggantikan unsur Surti :
Surti, anak pak Tejo, sedang belajar
Surti,          -             ,sedang belajar
-                , anak pak Tejo sedang belajar
Unsur Surti merupakan UP, sedangkan unsur anak pak Tejo merupakan aposisi (Ap).
Zaenal Arifin dan Junaiyah (2008), frase apositif adalah frase endosentris berinduk banyak yang secara luar bahasa komponennya menunjuk pada wujud yang sama (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:25). Contohnya :
Ria, anak kakakku yang tinggal di palembang,
Megawati Soekarnoputri, salah seorang mantan Presiden Republik Indonesia,
Para buruh menolak – membangkang – masuk kerja.
Dia tidak miskin – walaupun tidak kaya –
2.1.2    Frase Nominal, Veerbal, Bilangan, Keterangan dan Frase Depan
Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu :
-         Frase Nominal
-         Frase Verbal
-         Frase Bilangan
-         Frase keterangan
Di samping itu, ada frase yang tidak memiliki persamaan distribusi dengan golongan kata, yaitu yang disebut frase depan, sehingga seluruhnya terdapat lima frase yang akan dibahas satu persatu.
1.      Frase Nominal
Frase nominal adalah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal (Ramlan 1985:145). Persamaan distributif itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran :
Contoh : – ia membeli baju baru
ia membeli baju baru
Frase baju baru dalam klausa diatas mempunyai distribusi yang sama dengan kata baju. Kata baju termasuk golongan kata nominal, karena itu frase baju baru termasuk golongan frase nominal. Contoh-contoh lain :
- Mahasiswa lama
- Gedung sekolah
- Kapal terbang itu
- Jalan raya ini
1.1.            Kategori Kata atau Frase yang Menjadi Unsurnya
Secara kategori frase nominal mungkin terdiri dari :
1)      N diikuti N, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase nominal sebagai UP atau Atr. Jadi semua unsurnya berupa kata atau frase nominal. Misalnya :
Ø      Rumah pekarangan
Ø      Ayah ibu
Ø      Suami istri
Ø      Kakak saya
Frase rumah pekarangan, ayah ibu, suami istri, dan kakak saya  terdiri dari kata nominal semua, yaitu kata rumah, ayah, suami, dan kakak sebagai UP, diikuti kata pekarangan, ibu, istri dan saya sebagai UP pula.
2)      N diikuti V, artinya terdiri dari kata  atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata frase verbal sebagai Atr. Misalnya :
Ø      Orang bertopi
Ø      Ayah bekerja
Ø      Adik bermain
3)      N diikuti Bil, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :
Ø      Orang dua
Ø      Telur tiga butir
Ø      Sawah lima petak
Ø      Harimau lima ekor
4)      N diikuti Ket, artinya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase keterangan sebagai Atr. Misalnya :
Ø      Koran kemarin pagi
Ø      Buku tahun kemarin
Ø      Nasi tadi pagi
Ø      Orang tadi
5)      N diikuti FD, artinya terdiri dari kata  atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase depan sebagai Atr. Misalnya :
Ø      Beras dari tetangga
Ø      Kereta api ke Surabaya
Ø      Pisang dari Ambon
6)      N didahului Bil, artinya terdiri dari kata atau frase nominal UP, didahului oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr. Misalnya :
Ø      Sepuluh ekor ayam
Ø      Lima batang kayu
Ø      Dua buah sepeda baru
7)      N didahului Sd, artinya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP didahului oleh kata atau frase sandang sebagai Atr. Misalnya ;
Ø      si Ahmad
Ø      sang Pujangga
1.2.        Hubungan Makna antar Unsur-unsurnya
Pertemuan unsur-unsur dalam suatu frase menimbulkan hubungan makna. Misalnya peertemuan kata rumah dengan  kata pekarangan dalam frase pekarangan rumah menimbulkan hubungan  makna ’penjumlahan’. Di samping itu, mungkin juga menimbulkan hubungan makna ’pemilihan’. Hubungan makna itu secara jelas ditandai oleh kemungkinan diletakkannnya kata dan atau atau di antara kedua unsurnya, yang menjadi pekarangan dan rumah atau pekarangan atau rumah.
Kemungkinan hubungan-hubungan makna dalam frase nominal tersebut adalah sebagai berikut :
v     Penjumlahan
Makna ini ditandai oleh kemungkinan diletakkannya penghubung dan diantara kedua unsurnya. Misalnya :
Ø      Suami (dan) istri
Ø      Pekarangan (dan) rumah
Ø      Nusa (dan) bangsa
v    Pemilihan
Kemungkinan diletakkannya kata atau diantara unsurnya. Misal :
Ø      Ayah atau ibu
Ø      Dua atau tiga tahun lagi
Ø      Empat atau lima kilo beras
v        Kesamaan
Kesamaan ini ditandai dengan kemungkinan diletakkannya kata adalah diantara unsurnya, misal Lubuklinggau kota madani yang secara semantik unsur Lubuklinggau sama dengan kota madani. Contoh lain :
Ø      Bapak SBY presiden RI
Bapak SBY adalah presiden RI
Ø      Kakak  saya Ahmad
Kakak saya adalah ahmad
Ø      Rahmad mahasiswa STKIP
Rahmad adalah mahasiswa STKIP
v     Penerangan
Maksudnya adalah fungsi Atr  sebagai penerang UP, contoh buku baru, kata buku berfungsi sebagai UP dan kata baru sebagai penerang dari kata buku. Hubungan makna ini ada kemungkinan diletakkannya kata yang diantara unsurnya sehingga kata buku baru menjadi buku yang baru. Contoh lain :
Ø            Pohon rindang
Ø            Binatang buas
Ø            Acara terakhir
v     Pembatas
Dalam hal ini unsur Atr berfungsi sebagai pembatas UP, contoh rumah  fauzi yang menyatakan makna rumah (milik) fauzi. Hubungan makna ini ditandai tidak mungkinnya diletakkan kata yang, dan, atau, dan adalah diantara unsur frase N yang terdiri dari N diikuti N. Contoh lain :
Ø                 Anggota DPR
Ø                 Buku sejarah
Ø                 Pembangunan daerah
v     Penentu atau Penunjuk
Hubungan makna ini berkemungkinan diletakkannya kata penunjuk ini atau itu yang berfungsi sebagai penunjuk UP, kata penunjuk bukan menyatakan makna ’penerang’ sekalipun dapat di tambahkan kata yang diantara unsurnya, dan bukan pula menyatakan makna ’pembatas’ tetapi menyatakan makna penentu atau penunjuk. Contoh :
Ø                 Rumah itu
Ø                 Mahasiswa yang rajin itu
Ø                 Pekarangan ini
Ø                 Mobil ini
2.      Frase Verbal
Frase verbal atau frase golongan V adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran  :
Contoh :           Rachmad sedang makan roti di ruang tamu
Rachmad          makan roti di ruang tamu
Frase sedang makan dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata makan. Kata makan termasuk golongan V. Karena itu frasse sedang makan juga termasuk golongan V. Contoh lain :
- Akan pergi
- Dapat menyanyi
- Sudah pulang
- Sedang makan
Kata pergi, menyanyi, pulang, dan makan termasuk golongan kata verbal, sedangkan kata akan, dapat, sudah dan sedang termasuk golongan kata tambah (T). Kata-kata tambah tersebut seperti akan, sudah, sering, dapat, sedang, baru dan tidak.
Zaenal Arifin dan junaiyah (2008), frase verbal adalah frase yang terdiri dari atas gabungan  verba dan adverba atau gabungan verba adverbia atau gabungan verba dan preposisi gabungan (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:22).
Contohnya :
1.      Pergi kerja, bangkit berlari, tegak berdiri
2.      Pulang pergi, makan minum
3.      Berlari cepat, berjalan mundur, bernyanyi merdu, cepat berlari.

3.      Frase Bilangan
Frase bilangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan (Ramlan 1985:162). Misalnya frase dua ekor dalam dua ekor ayam, frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan dua, persamaan tersebut dapat dilihat dari jajarannya :
Dua ekor ayam
Dua –   ayam
Kata dua termasuk golongan kata bilangan, karena itu frase dua ekor ayam termasuk ke dalam golongan frase bilangan. Contoh lain :
Ø      Lima botol (minyak goreng)
Ø      Tujuh drigen (bensin)
Ø      Sepuluh mangkok (bakso)
Kata lima, tujuh, sepuluh diatas termasuk golongan kata bilangan, sedangkan botol, drigen dan mangkok termasuk golongan kata penyukat. Jadi frase bilangan tersebut terdiri dari unsur kata bilangan diikuti kata penyukat.
Zaenal Arifin dan Junaiyah menyebut frase ini dengan frase numeral yaitu, frase yang terdiri atas numeralia sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan nomina penggolongan bilangan dan nomina ukuran (Zaenal Arifin dan Junaiyah 2008:24). Contohnya :
Ø      tujuh belas, tiga puluh, lima puluh
Ø      dua lusin, empat gros, lima botol
4.      Frase Keterangan
Frase keterangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan. Misalnya frase tadi pagi yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata tadi. Peersamaan tersebut dapat diketahui dari jajarannya :
Tadi pagi dewi pergi kuliah
Tadi – dewi pergi kuliah.
Kata-kata keterangan seperti tadi, kemarin, nanti, besok, lusa, sekarang contoh lain misalnya :
Ø      Kemarin pagi paman datang.
Ø      Nanti malam ayah mulai ronda.
Ø      Besok saya pergi ke bandung.
5.    Frase Depan
Frase depan ialah frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinya. Misalnya :
Ø      di sebuah kota
Ø      di toko ayah
Ø      sejak kemarin sore
Frase di sebuah kota terdiri dari kata depan di sebagai penanda, diikuti oleh frase sebuah kota sebagai aksinya, dan begitu juga dengan frase sejak kemarin sore yang terdiri dari sejak sebagai kata depan dan frase kemarin sore sebagai aksinya.
















BAB III
PENUTUP

A.       KESIMPULAN
Frase adalah satuan gramatikal yang secara potensial berupa gabungan kata yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas dan mempunyai sifat nonpredikatif.
Frase dapat dibedakan menjadi :
1.      Frase Eksosntris dan Endosentris
Ø      Frase Eksosentris :
Ø      Eksosentris Direktif (frase preposisi)
Ø      Frase posposisi
Ø      Frase preposposisi
Ø      Frase Endosentris ;
Ø      Endosentris Koordinatif
Ø      Endosentris Atributif
Ø      Endosentris Apositif
2.      Frase Berdasarkan Persamaan Distribusi
Ø      Frase Nominal
Ø      Frase Verbal
Ø      Frase Bilangan
Ø      Frase Keterangan
Ø      Frase Depan

B.       SARAN
Untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak bahkan lebih lengkap tentang pembahasan Sintaksis, pembaca dapat membaca dan mempelajari buku-buku Sintaksis dari berbagai pengarang, karena di dalam makalah ini penulis hanya membahas garis besarnya saja tentang pembahassan Sintaksis dan hanya membahas lebih dalam tentang frase.
Di sini penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan  penulisan makalah-makalah selanjutnya sangat diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zaenal dan Junaiyah. 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo
Ramlan, M. 1985. Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa
http://www.rider-system.net/2009/09/konsep-frasa.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar